Eksistensialisme di Neon Genesis Evangelion.
Evangelion - Pengenalan Eksistensialisme
Last updated: 5 months ago
Evangelion – Anime Sakit (Versi Formal)
Pembukaan
Pernahkah Anda menonton sebuah anime yang pada awalnya tampak seperti hiburan pertarungan melawan monster, namun perlahan justru membuat Anda mempertanyakan makna hidup itu sendiri?
Jika pernah, besar kemungkinan Anda telah menyaksikan Neon Genesis Evangelion.
Halo semuanya. Pada pembahasan kali ini, kita akan mengulas salah satu anime paling legendaris, kontroversial, sekaligus paling kompleks dalam sejarah industri anime, yaitu Neon Genesis Evangelion.
Pertama kali tayang pada tahun 1995, Evangelion sejak lama dianggap sebagai tontonan “wajib” bagi penggemar anime. Bahkan muncul ungkapan populer di kalangan penggemar:
“Belum menonton Evangelion berarti belum benar-benar memahami anime.”
Namun, apa yang membuat Evangelion begitu istimewa? Mengapa anime ini sering disebut bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah pengalaman emosional dan eksistensial?
Dalam pembahasan ini, kita akan mengulas Evangelion secara menyeluruh—mulai dari latar belakang penciptaannya, cerita, karakter, simbolisme, hingga dampaknya terhadap industri anime dan para penontonnya.
Bab 1 – Latar Belakang & Hideaki Anno
Sebelum membahas ceritanya, penting untuk mengenal sosok di balik Evangelion, yaitu Hideaki Anno.
Saat menggarap Evangelion, Anno berada dalam kondisi mental yang sangat buruk. Ia mengalami depresi berat dan sempat menarik diri dari industri anime karena kehilangan motivasi hidup dan berkarya.
Alih-alih menyerah, Anno justru menyalurkan seluruh kegelisahan, rasa sakit, dan krisis eksistensialnya ke dalam sebuah karya. Evangelion lahir bukan dari ambisi pasar, melainkan dari pergulatan batin seorang kreator yang sedang berada di titik terendah hidupnya.
Hal inilah yang membuat Evangelion terasa begitu jujur, personal, dan berbeda dari anime mecha pada umumnya—serta menjadikannya fenomena global.
Bab 2 – Premis Cerita
Secara garis besar, Evangelion memiliki premis yang tampak sederhana:
- Dunia diserang oleh makhluk raksasa yang disebut Angel.
- Umat manusia menciptakan robot biologis bernama Evangelion untuk melawan mereka.
- Pilot Evangelion adalah anak-anak berusia 14 tahun.
Tokoh utama kita adalah Shinji Ikari, seorang remaja yang dipaksa oleh ayahnya, Gendo Ikari, untuk mengendalikan Eva Unit-01.
Pada permukaannya, Evangelion terlihat seperti anime mecha konvensional. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa:
Pertarungan utama dalam Evangelion bukanlah antara Evangelion dan Angel, melainkan antara manusia dan trauma batin mereka sendiri.
Bab 3 – Karakter dan Psikologi
Salah satu kekuatan terbesar Evangelion terletak pada penokohannya. Tidak ada karakter yang digambarkan sebagai pahlawan sempurna. Mereka rapuh, bermasalah, dan sering kali menjengkelkan—namun justru terasa sangat manusiawi.
1. Shinji Ikari – Representasi Insecure dan Ketakutan Akan Penolakan
Shinji kerap dianggap lemah, mudah menyerah, dan tidak tegas. Namun, ia merupakan gambaran remaja yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, hidup dengan ketakutan akan penolakan, dan terus mencari pengakuan.
Shinji mencerminkan perasaan banyak orang yang merasa tidak cukup baik dan takut akan kegagalan.
2. Asuka Langley – Pertahanan Narsistik yang Rapuh
Asuka tampil percaya diri, arogan, dan dominan. Namun di balik itu, ia menyimpan luka psikologis yang mendalam.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai narcissistic defense: sikap superior yang digunakan untuk menutupi rasa tidak berharga. Kehancuran mental Asuka menjelang akhir cerita menjadi salah satu momen paling kuat dalam Evangelion.
3. Rei Ayanami – Krisis Identitas
Rei adalah simbol krisis identitas. Sebagai klon, keberadaannya sendiri mempertanyakan makna individualitas.
Pertanyaan Rei—“Siapakah aku?”—mewakili kegelisahan manusia modern yang merasa hidupnya hanya sebagai alat bagi kepentingan orang lain.
4. Misato Katsuragi – Mekanisme Pelarian
Misato tampak ceria dan dewasa, namun perilakunya—alkohol, humor berlebihan, dan gaya hidup impulsif—adalah bentuk coping mechanism untuk melarikan diri dari trauma masa lalu.
5. Gendo Ikari – Obsesi yang Mengorbankan Segalanya
Gendo adalah figur ayah yang dingin dan manipulatif. Semua tindakannya digerakkan oleh obsesinya untuk kembali bertemu dengan istrinya, Yui, bahkan jika itu berarti mengorbankan anaknya sendiri.
6. Kaworu Nagisa – Simbol Kasih Tanpa Syarat
Meskipun muncul singkat, Kaworu memiliki dampak emosional yang besar. Ia memberikan Shinji bentuk penerimaan tanpa syarat—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Bab 4 – Simbolisme Agama dan Filosofi
Evangelion sarat dengan simbol keagamaan dan metafora filosofis: salib, Adam, Lilith, AT Field, dan LCL.
Hideaki Anno menyatakan bahwa simbol-simbol tersebut digunakan terutama untuk menciptakan kesan eksotis. Namun, secara tematik, simbolisme ini justru memperkuat lapisan makna cerita.
- AT Field dapat dimaknai sebagai batas psikologis antarmanusia.
- LCL sering ditafsirkan sebagai simbol kembalinya manusia ke asal mula kehidupan, atau rahim—tempat tanpa rasa sakit dan penolakan.
Bab 5 – Human Instrumentality Project
Inti konflik Evangelion terletak pada Human Instrumentality Project—rencana untuk menyatukan seluruh jiwa manusia menjadi satu kesadaran kolektif.
Tujuannya adalah menghapus kesepian dan konflik. Namun konsekuensinya adalah hilangnya identitas individu.
Dilema besar yang diajukan Evangelion adalah:
- Apakah lebih baik hidup sebagai individu yang terluka?
- Ataukah melebur demi menghilangkan rasa sakit, meski kehilangan diri sendiri?
Shinji memilih untuk tetap menjadi individu, meskipun itu berarti menerima penderitaan. Inilah pesan utama Evangelion: hidup memang menyakitkan, tetapi tetap layak untuk dijalani.
Bab 6 – Ending Kontroversial
Akhir Evangelion dikenal sangat kontroversial.
- Episode 25–26 versi televisi menampilkan introspeksi psikologis, bukan resolusi konflik fisik.
- Film The End of Evangelion (1997) menyajikan versi yang lebih brutal dan simbolis.
Seri Rebuild of Evangelion (2007–2021) kemudian memberikan reinterpretasi dengan penutup yang lebih optimis, di mana Shinji akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.
Bab 7 – Dampak terhadap Industri Anime
Evangelion merevolusi genre mecha. Anime mecha tidak lagi sekadar hiburan, melainkan media eksplorasi psikologis dan filosofis.
Banyak karya setelahnya—seperti RahXephon, Darling in the Franxx, hingga Gurren Lagann—jelas terinspirasi oleh Evangelion.
Evangelion juga membuktikan bahwa anime dapat diperlakukan sebagai karya seni serius, sejajar dengan film dan sastra.
Bab 8 – Dampak terhadap Penonton
Dampak Evangelion bersifat ambivalen:
- Sebagian penonton merasa tertekan dan hampa.
- Sebagian lainnya justru merasa dipahami dan terwakili.
Evangelion membantu membuka diskusi mengenai depresi dan kesehatan mental, khususnya di Jepang pada era 1990-an.
Bab 9 – Kajian Akademis
Evangelion telah menjadi objek kajian akademis lintas disiplin:
- Psikoanalisis: sebagai potret keluarga disfungsional.
- Filsafat: dikaitkan dengan pemikiran Sartre dan Camus.
- Kajian budaya: sebagai refleksi kecemasan sosial Jepang pasca-krisis ekonomi.
Bab 10 – Relevansi di Era Modern
Isu-isu Evangelion—kesepian, identitas, trauma keluarga—tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah era digital yang serba terhubung, banyak orang justru merasa semakin terisolasi. Evangelion menjadi cermin bagi generasi modern yang terus mempertanyakan nilai dan makna diri.
Penutup
Evangelion adalah:
- Hiburan mecha di permukaan.
- Terapi psikologis di kedalaman.
- Revolusi dalam industri anime.
- Pengalaman emosional yang membekas bagi penontonnya.
Evangelion tidak nyaman, absurd, dan sering kali menyakitkan. Namun justru karena itulah ia bertahan sebagai karya yang relevan.
Hidup memang menyakitkan—namun, seperti yang ditunjukkan Evangelion, hidup tetap layak untuk dijalani.