September 27, 2026
Build My First PC.
PC rakitan pertamaku tahun 2017: AMD A8-9600, ASRock AB350M-HDV, RAM 8 GB dual channel — dan sampai sekarang masih hidup.
Tahun 2017, kebutuhanku sudah tidak bisa lagi ditangani netbook Atom . Aku butuh banget komputer yang lebih bertenaga. Jadilah aku merakit PC pertamaku.
Budget terbatas, jadi pilihannya harus cermat: sebuah APU AMD — prosesor yang sudah punya grafis terintegrasi — supaya tidak perlu beli kartu grafis terpisah.

Spesifikasi Lengkap
| Komponen | Pilihan |
|---|---|
| Prosesor | AMD A8-9600 dengan Radeon R7 Graphics |
| Motherboard | ASRock AB350M-HDV |
| RAM | 8 GB (2 × 4 GB) GeIL EVO SPEAR DDR4 PC4-19200, dual channel |
| Grafis | Radeon R7 terintegrasi di APU |
| Penyimpanan | WD Blue 1 TB (HDD) → ditambah SSD 2 tahun kemudian |
| Power supply | GameMax 450 W |
| Casing | VenomRX Squadron |
Prosesor — AMD A8-9600

APU generasi Bristol Ridge untuk soket AM4. Kelebihannya: CPU dan GPU dalam satu chip, jadi PC bisa langsung dipakai tanpa kartu grafis.
- 4 core / 4 thread, 3,1 GHz (boost hingga 3,4 GHz)
- Cache L2 2 MB
- Grafis Radeon R7 terintegrasi (6 compute unit, hingga 900 MHz)
- TDP 65 W, fabrikasi 28 nm
- Mendukung memori DDR4-2400
Karena grafisnya memakai RAM sistem, RAM dual channel jadi penting — bandwidth-nya berlipat, dan performa grafis terintegrasi ikut terangkat.
Motherboard — ASRock AB350M-HDV

Motherboard Micro-ATX dengan chipset AMD B350. Keputusan memilih soket AM4 ternyata tepat: platform ini mendukung APU A-Series sekaligus Ryzen, jadi jalur upgrade-nya panjang.
- Soket AM4, chipset AMD B350, Micro-ATX (23,1 × 20,6 cm)
- 2 slot DDR4, maksimal 32 GB (DDR4-2400 untuk APU A-Series)
- 1× PCIe 3.0 x16, 1× PCIe 2.0 x1
- 4× SATA3 + 1× Ultra M.2 (PCIe Gen3 x4 & SATA3)
- Output video HDMI, DVI-D, D-Sub (mendukung tiga monitor)
- Audio Realtek ALC887 7.1, LAN Realtek Gigabit
- 6× USB 3.1 Gen1
RAM — GeIL EVO SPEAR DDR4 8 GB

- Kit 2 × 4 GB, dual channel
- DDR4-2400 (PC4-19200), 1,2 V
- Heatspreader berprofil standar, aman untuk cooler bawaan
Penyimpanan — WD Blue 1 TB, Lalu SSD

Awalnya semua data dan sistem operasi ada di HDD WD Blue 1 TB (3,5 inci, SATA 6 Gb/s). Kapasitasnya lega, tapi booting dan membuka aplikasi terasa lambat.
Dua tahun kemudian aku menambahkan SSD. Ini upgrade dengan efek paling terasa: Windows menyala dalam hitungan detik, dan HDD 1 TB beralih tugas jadi gudang data.
Power Supply — GameMax 450 W

Untuk APU 65 W tanpa kartu grafis, 450 W sebenarnya lebih dari cukup — sekaligus menyisakan ruang kalau suatu hari mau menambah VGA.
Casing — VenomRX Squadron
Casing lokal yang waktu itu populer karena murah tapi tampil “gaming”:
- Mid-tower, panel tempered glass
- Dimensi 400 × 185 × 420 mm
- Mendukung motherboard Micro-ATX, ATX, dan E-ATX
- Tinggi cooler CPU hingga 160 mm, panjang VGA hingga 380 mm
- 3× bay 2,5 inci, 2× bay 3,5 inci
- Hingga 5 kipas 120 mm (3 depan, 1 atas, 1 belakang)
- Port depan: USB 3.0, 2× USB 2.0, audio & mic
Masih Hidup Sampai Sekarang
Bagian terbaiknya: komputer ini masih ada dan masih bisa dipakai sampai sekarang. Hampir sembilan tahun, dan satu-satunya upgrade besar hanyalah SSD.
Dari PC ini aku belajar merakit komputer sendiri — memilih komponen yang saling cocok, memahami kenapa dual channel penting untuk APU, dan merasakan langsung bedanya HDD dan SSD.

Hey! I’m Fanny, the software engineer tending to this digital garden. You can read more about me, or subscribe by email.