December 1, 2025
Home Lab Server.
Cerita menyulap laptop bekas jadi server rumahan dengan Proxmox, Docker, dan Cloudflare Tunnel — daripada terus sewa VPS.
Sewa VPS itu gampang: klik, bayar, jadi. Tapi justru karena terlalu gampang, aku nggak pernah benar-benar paham apa yang terjadi di baliknya — bagaimana VM dibuat, bagaimana jaringannya diatur, bagaimana sebuah service bisa diakses dari internet.
Di pojok rumah ada laptop lama yang sudah jarang dipakai. Daripada jadi pajangan, aku putuskan untuk reinvent the wheel: bikin “cloud” kecil sendiri di rumah.
Kenapa Nggak Sewa VPS Saja?
Alasannya sederhana:
- Biaya. VPS itu tagihan bulanan yang terus jalan. Laptop bekas sudah ada, tinggal listrik.
- Belajar. Aku ingin mengerti infrastruktur dari bawah: hypervisor, bridge network, container, sampai cara mengekspos service dengan aman.
- Bebas eksperimen. Mau bikin VM, hancurkan, bikin lagi — tanpa takut tagihan membengkak atau server produksi ikut rusak.
Rancangan
Arsitekturnya aku buat berlapis supaya tiap bagian punya tanggung jawab yang jelas:
Internet
│
Cloudflare (DNS + Tunnel)
│ koneksi keluar, tanpa buka port di router
Laptop bekas ── Proxmox VE (hypervisor)
├── VM / LXC: Docker host
│ └── service-service (docker compose)
└── VM / LXC: eksperimen & dev environment
- Proxmox VE sebagai fondasi — satu mesin fisik dibagi menjadi beberapa VM dan container yang terisolasi.
- Docker di dalam VM untuk menjalankan aplikasi, supaya tiap service portabel dan gampang di-redeploy.
- Cloudflare Tunnel sebagai pintu masuk dari internet, tanpa perlu IP publik statis atau port forwarding.
Langkah 1 — Proxmox Sebagai Fondasi
Kenapa Proxmox, bukan langsung install Ubuntu + Docker? Karena dengan hypervisor aku dapat:
- Snapshot — sebelum eksperimen berisiko, snapshot dulu. Kalau rusak, tinggal rollback.
- Isolasi — service yang “serius” dan tempat coba-coba ada di VM yang berbeda.
- Web UI di
https://<ip-server>:8006untuk mengelola semuanya dari browser.
Detail instalasinya aku tulis terpisah di catatan Proxmox (VM)
, termasuk konfigurasi Linux Bridge (vmbr0) supaya VM bisa dapat IP dari jaringan rumah.
Satu hal yang wajib diurus kalau server-nya laptop: jangan sampai dia sleep saat layar ditutup. Di /etc/systemd/logind.conf:
HandleLidSwitch=ignore
HandleLidSwitchDocked=ignore
Lalu systemctl restart systemd-logind. Bonusnya, baterai laptop jadi semacam UPS mini kalau listrik mati sebentar.
Langkah 2 — Docker Untuk Service
Di dalam satu VM Linux, aku pasang Docker:
curl -fsSL https://get.docker.com | sh
Setiap service punya folder sendiri berisi docker-compose.yml. Dengan begitu, memindahkan atau membangun ulang service cukup dengan:
docker compose up -d
Konfigurasi jadi declarative — kalau VM-nya hilang, semua bisa dibangun ulang dari file compose .
Langkah 3 — Cloudflare Tunnel, Tanpa Buka Port
Ini bagian yang paling bikin lega. Koneksi internet rumah biasanya di balik NAT (bahkan CGNAT), jadi port forwarding sering nggak memungkinkan — dan kalaupun bisa, membuka port router ke internet itu berisiko.
Cloudflare Tunnel membalik arahnya
: cloudflared di server membuat koneksi keluar ke Cloudflare, lalu trafik dari domain diteruskan lewat koneksi itu.
cloudflared tunnel login
cloudflared tunnel create home-server
cloudflared tunnel route dns home-server app.example.com
cloudflared tunnel run home-server
Hasilnya: service bisa diakses lewat https://app.example.com dengan HTTPS otomatis, tanpa satu pun port terbuka di router.
Yang Aku Pelajari
- Hypervisor bukan sihir. Setelah mengatur bridge, storage, dan resource VM sendiri, konsep “cloud” jadi jauh lebih masuk akal.
- Networking adalah bagian tersulit. Kebanyakan masalah yang aku temui bukan di aplikasi, tapi di IP, bridge, DNS, dan firewall .
- Keamanan lewat desain. Daripada menjaga port yang terbuka, lebih baik tidak membuka port sama sekali.
- Snapshot menyelamatkan mental. Berani eksperimen karena tahu selalu ada jalan pulang.
Home lab ini juga yang akhirnya memicu project lanjutan seperti Proxmox Management Server — panel untuk mengelola Proxmox dari nol.
Keterbatasan & Rencana
Namanya juga laptop bekas, tetap ada batasnya:
- Single node — kalau laptopnya mati, semua service ikut mati.
- Hardware konsumen — tidak didesain menyala 24/7, jadi suhu dan kondisi disk perlu dipantau.
Rencana berikutnya:
- Backup otomatis (misalnya Proxmox Backup Server atau
vzdumpterjadwal ke disk lain). - Monitoring dan alert untuk resource dan uptime.
- Menambah service self-hosted lainnya.
Ringkasan teknis project-nya ada di halaman Home Server .

Hey! I’m Fanny, the software engineer tending to this digital garden. You can read more about me, or subscribe by email.